Search This Blog

Monday, 19 April 2010

Coco Chanel, Revolusi Dalam Fashion


Adalah Gabrielle Bonheur 'Coco' Chanel, seorang wanita kelahiran Loire Valley, Perancis pada 19 Agustus 1883, yang namanya mengharumkan dunia fashion dengan brand 'Chanel' yang dibuatnya beberapa puluh tahun silam. Ia bukanlah sekedar desainer biasa, karena karyanya punya ciri khas tersendiri dan mengubah gaya banyak wanita, yang sebelumnya tak pernah memperhatikan keindahan dan seni dalam berpakaian.Dengan sifatnya yang keras dan ambisius, Coco tak peduli akan pendapat orang tentang kehidupan pribadinya. Kekritisannya di dunia fashion dituangkan melalui hasil-hasil karya yang dibuatnya. Baginya pakaian yang dikenakan haruslah indah dan simple, membuat orang yang mengenakannya mudah bergerak dan terlihat cantik. "Fashion pada saat itu bagaikan lelucon, para desainer bahkan lupa bahwa yang ada di balik baju tersebut adalah seorang wanita. Kebanyakan wanita ingin dikagumi. Namun juga mereka harus bisa bergerak bebas dan mampu mengangkat roknya tanpa membuatnya kesulitan bergerak," ungkap Coco Chanel, seperti dikutip dari biography online.Jika kita melihat kesuksesan brand Chanel tentunya kita tak pernah menyangka bahwa brand ini lahir dengan penuh perjuangan dan kegagalan, apalagi saat itu dunia digemparkan dengan PD I dan PD II. Demikian pula dengan Coco Chanel, sang desainer pencipta brand Chanel, tak seperti desainer lainnya, hidup Coco tergolong rumit dan penuh kontroversi. Coco kecil lahir dari sepasang suami istri yang tinggal di Qormi Malta, ia kemudian dibesarkan bersama lima orang saudaranya, dua saudara perempuan dan tiga laki-laki. Masa kecil Coco merupakan paduan dari kebahagiaan dan kesedihan, ibunya meninggal karena TBC saat ia masih berusia 12 tahun. Untuk itu ayahnya memutuskan menitipkan anak-anaknya, termasuk Coco di sebuah panti asuhan selama ia bekerja. Hidup dan besar di panti asuhan tentunya bukan saat-saat yang menyenangkan, karena bagaimanapun seorang anak tentunya membutuhkan kasih sayang orang tua. Namun ambisi Coco untuk sukses menepis rasa pedih di dalam hatinya. Di usia 18 tahun ia nekat keluar dari panti asuhan dan pergi ke Moulins untuk menjadi penyanyi kabaret. Gadis remaja yang penuh ambisi dan impian itupun berangkat, namun sayangnya ia gagal.Ia kemudian bertemu seorang pengusaha tekstil muda, Etienne Balsan yang kemudian memberinya sebuah pekerjaan menjahit untuknya. Coco-pun mulai menjahit. Untungnya pada saat tinggal di panti asuhan, Coco telah dibekali ketrampilan menjahit oleh para suster di sana, bekal inilah yang membuat ia dapat bertahan hidup. Coco kemudian menyadari bahwa ternyata ia suka mendesain topi dan menghiasnya agar terlihat lebih cantik. Coco pun menekuni hobbynya. Sadar bahwa ternyata Balsan berniatan tidak baik padanya, Coco meninggalkan Balsan dan menyewa sebuah apartemen di Paris. Pada 1913 ia berhasil membuat sebuah toko kecil hasil desainnya yang menjual aneka jaket dan jas hujan fashionable untuk wanita. Pada saat itu Coco tidak lantas sukses, bahkan ia harus menyerahkan tokonya untuk disita.Sebelum perang dunia meletus, ia bertemu seorang teman Balsan bernama Arthur Capel, pemuda itu kemudian membuatnya jatuh cinta. Dengan bantuan Arthur Coco dapat bangkit, ia melakukan peminjaman kredit dan segera membuka sebuah toko baru. Desain topinya yang unik dan menarik pun lekas menarik perhatian selebriti Perancis. Puas dengan hasil desain Coco, sang artis pun membantu merekomendasikan hasil karya Coco pada rekan sejawatnya. Coco muda, mendapat reputasi pertamanya.Sebagai seorang desainer cantik dan muda, Coco dikabarkan sering terlibat affair dengan para pria kaya. Bahkan konon ia aman hidup di Paris di bawah perlindungan Nazi. Namun Coco tak pernah menikahi salah satu di antara mereka. Coco lebih memilih hidup sendiri dan konsentrasi pada impian fashionnya.Saat perang dunia II meletus ia memutuskan menutup tokonya dan bersembunyi di sebuah hotel di Perancis, Hotel Ritz Paris. 30 tahun lamanya Coco bersembunyi, bangun dan bangkit dalam usaha fashionnya, ia kemudian memutuskan untuk kembali eksis secara total. Saat berjuang kembali ke dunia fashion, reputasi Coco tak sebagus dahulu, desas desus affairnya dengan Nazi membuatnya kehilangan pelanggan dari Paris. Beruntunglah ia, hasil karyanya tetap dikagumi oleh orang Inggris dan Amerika.Seiring dengan bergantinya tahun, brand Chanel semakin berkembang dan dikenal di dunia Internasional. Yang tersisa darinya bukanlah hasil affair, namun penghargaannya pada seorang wanita di balik baju yang dikenakan di dalam setiap desain Chanel yang dibuatnya. Coco Chanel hidup di dalam cercaan banyak orang, namun ia tetap berusaha bangkit dan menunjukkan hasil karya terbaiknya. Jika seorang Coco Chanel bisa bertahan di tengah orang-orang yang memandang sebelah mata kepadanya, mengapa Anda harus menyerah sebelum berjuang?Jadikan semangat Coco Chanel sebagai inspirasi bagi Anda. Di balik kekurangan yang Anda miliki, tentu Anda menyimpan kelebihan dan impian bukan? Karena Coco Chanel tahu, ada sesuatu yang lebih indah dan berharga dari fashion, itu adalah Anda!"I don't do fashion. I am fashion!" - Coco Chanel - (wo/bee)

Lily Lotus, Sepatu Jaman Dinasti Song dan Qing


Menurut legenda, lily lotus atau sandal kaki pertama kali muncul di Cina pada abad ke-11, jaman Dinasti Song. Ketika permaisuri lahir dengan cacat kaki. Menyelamatkan masa depannya dan menghindari malu, ayahnya mengumumkan bahwa hanya wanita dengan kaki yang sangat kecil dapat benar-benar feminin dan diinginkan. Akibatnya perempuan mulai mengikat kaki mereka. Kaki yang kecil dan yang hampir tidak bisa digunakan menjadi tanda status, kecantikan, budi dan daya tarik seksual.Hal ini membuat perempuan di cina pada saat itu berpikir bahwa untuk menjadi cantik, mereka harus mempunyai kaki yang kecil, hanya sekitar tiga inci panjangnya. trend tersebut menyebabkan banyak dr mereka sengaja membungkus kaki mereka dengan ketat dengan perban saat mereka masih berumur lima atau enam tahun. Orang2 biasa menyebutnya sebagai sepatu teratai emas. Sebuah sepatu untuk seseorang dengan kaki yang terikat dengan ukuran 140mm (5 ½ inci) panjangnya dan 24mm (1 inci) lebarnya.Mereka mengikat kaki mereka dengan ketat hingga mematahkan jari2 kaki mereka, kemudian mereka harus berjalan dengan kondisi jari yg ditekan ke telapak kaki seperti itu. Anak2 perempuan menghabiskan sebagian besar waktu mereka menangis selama dua atau tiga tahun sampai kebal. Biasanya, prosedur pengikatan dengan pembalut tadi tetap berlangsung sampai tua.Perempuan dengan kaki terikat tidak bisa berjalan dengan baik sama sekali, dan ketika mereka harus bekerja di ladang sering kali mereka harus merangkak. Beberapa versi awal kisah Cinderella berasal dari Cina Dinasti Sung. Dalam versi ini, inti dari cerita ini adalah bahwa Pangeran mencintai Cinderella karena ia memiliki kaki terkecil dari setiap gadis di kerajaan, sehingga sepatu hanya akan cocok dengan-gadis tersebut.Kematian kadang menjadi bagian dari tradisi ini. Infeksi yang ditimbulkan sepanjang tahun yang disebabkan oleh tertusuknya bagian telapak kaki mereka oleh kuku kaki mereka sendiri membuat mereka juga harus membawa “penyakit” itu sepanjang tahun dan akhirnya berujung dengan kematian.Praktek pengikatan kaki ini ternyata juga dialami oleh sebagian laki-laki Cina. Ada kepercayaan bangsa Cina, dimana anak laki-laki biasanya berumur pendek dibandingkan dengan anak perempuan. Oleh karena itu, orang tua yang sayang banget sama anak laki-lakinya berusaha “menipu” dewa dengan mendandani anak laki-laki dengan pakaian perempuan, memanjangkan rambutnya termasuk mengikat kakinya. Konon, laki-laki yang mengalami proses ini biasanya termasuk kalangan homo. Sebuah koran Cina pada tahun 1931 pernah mengungkapkan tertangkapnya seorang laki-laki dengan dandanan perempuan dengan keadaan kaki yang mengalami proses “pengikatan”.Pertengahan tahun 1600-an tradisi ini mulai dihilangkan, sejalan dengan bangkitnya pemerintahan baru di Cina. Bahkan dengan tegas, pemerintah melarang adanya praktek “pengikatan kaki” ini. Walaupun, tidak disangkal pada tahun 1930 lily lotus ini masih ada di daerah terpencil di China. Tahun 1998, pabrik sepatu yang memproduksi "Lotus Shoes" baru saja baru berhenti berproduksi.

Jejak Para Legendaris

KIBLAT dunia mode adalah Paris. Namun, bukan kota itu yang menjadikannya identik dengan sebutan mode dan adibusana, melainkan para perancang yang berbasis di ibu kota Prancis ini.

Tidak mudah membangun prestasi gemilang dan karier cemerlang di salah satu kota terindah di dunia ini. Apalagi di bidang mode. Tidak sembarang orang bisa menapakkan kaki dan mempresentasikan koleksi di catwalk Paris. Dibutuhkan usaha ekstrakeras untuk bisa mencapai gerbangnya. Selanjutnya, perjuangan mati-matianlah yang akan mengantarkan seorang perancang ke runway kehormatan, Paris Fashion Week.

Pertempuran tidak berakhir sampai di situ. Persaingan ketat menunggu di ujung catwalk. Bukan hanya pencinta mode yang harus dimanjakan dengan koleksi- koleksi inovatif, tapi juga deretan pelaku mode, mulai buyer hingga para editor. Para perancang pun selalu dihantui waktu. Tidak ada kata istirahat di dunia mode. Deadline terus bercokol di setiap agenda, memaksa desainer untuk terus memutar otak, menggali inspirasi demi menyajikan koleksi yang lebih memikat. Jika berhasil, panggung kehormatan dan tepuk tangan riuh membayar lunas semua usaha keras tersebut. Namun, bila tidak, semuanya kembali ke awal, kembali menapaki perjalanan panjang itu.

Ya, tidak mudah menggapai tangga karier sebagai desainer papan atas di Paris, pusat mode dunia. Namun, tentu nama-nama besar seperti Chanel, Versace, Yves Saint Laurent, Ralph Lauren, Pierre Cardin yang berkibaran di Paris membuat banyak bakat muda tergiur. Berlomba-lomba mendaki jalur terjal di trek mode, berusaha mendekati dan menjajari nama-nama yang menjadi inspirasi mereka.

Namun, para legendaris mode tidak berdiri di bawah lampu sorot dengan langkah mudah. Semua perancang besar yang berdiri di panggung Paris punya kisah tersendiri tentang perjuangannya.

Coco Chanel memulai mengawali suksesnya dengan inovasi di dunia mode. Dia yang memperkenalkan little black dress sebagai busana untuk segala kesempatan dan pengaruhnya yang besar di dunia mode membuat majalah Time menaruhnya di daftar 100 orang paling berpengaruh pada abad ke-20.

Yves Saint Laurent, yang meninggal akibat kanker otak, memiliki jalan hidup yang tidak mulus. Bakatnya yang begitu besar mengantarnya hingga ke rumah mode Christian Dior, tetapi perang membuat mentalnya tertekan sehingga Saint Laurent harus dirawat secara intensif di rumah sakit jiwa. Setelah pulih, Saint Laurent terus merajut sukses hingga meraih gelar sebagai ”King of Fashion” dan mendapat berbagai gelar kehormatan, termasuk ”Legion d’Honneur” dari mantan presiden Prancis Jacques Chirac.

Presiden Council of Fashion Designer of America (CFDA) Diane von Furstenberg mengatakan, Yves Saint Laurent merupakan salah satu desainer paling berpengaruh pada abad ke-20. Gianni Versace yang juga dianggap sebagai maestro mode, memiliki kisah tragis. Dia ditembak penggemarnya ketika tengah berjalan- jalan. Namun, karya-karyanya yang luar biasa dan warisannya terus dilanjutkan kedua saudaranya, Santo dan Donatella Versace.

Bukan hanya mereka yang telah berpulang yang meninggalkan jejak di ranah mode. Para legendaris hidup tidak ketinggalan memberikan warna yang berbeda, seperti halnya Valentino, Karl Lagerfeld, Vivienne Westwood, Tom Ford, maupun Diane von Furstenberg.

Valentino hadir dengan Rosso, gaun-gaun merah yang menjadi ciri khasnya. Sementara Westwood menjadikan punk unsur yang terintegrasi dengan mode, bukan hadir terpisah. Lain lagi dengan Tom Ford yang berhasil membuktikan dirinya sebagai desainer berbakat tanpa nama besar Gucci. Adapun Karl Lagerfeld menjadi kunci sukses terus berlanjutnya nama besar Chanel di dunia mode dan Diane von Furstenberg menggebrak industri mode lewat gaun lilitnya yang terkenal.

Selain itu, Ralph Lauren membawa sportswear mendapat penghargaan istimewa di industri mode.

Karl Lagerfeld 'Sang Kaisar'


JIKA ditanya siapa desainer yang paling berpengaruh saat ini, nama Karl Lagerfeld pasti tercetus sebagai salah satunya. Desainer bergelar ”Kaiser” itu sukses menangani tiga label kelas dunia, Chanel, Fendi, dan label pribadinya, Karl Lagerfeld.

Desainer yang bernama lengkap Karl Otto Lagerfeld itu lahir di Hamburg, Jerman pada 1933. Kendati dikenal sebagai perancang asal Jerman, Karl sebenarnya berdarah campuran Swedia-Jerman, yang didapat dari ayahnya, seorang pebisnis sukses asal Swedia dan ibunya adalah keturunan orang kaya lama di Jerman.

Hobi Karl kecil adalah membaca. ”Saya suka sekali membaca. Saya sudah membaca buku dari kecil. Ibu saya mengatakan, jika ingin dongeng sebelum tidur maka saya harus membacanya sendiri,” ujar Karl dalam sebuah wawancara. Namun, ternyata Karl kecil tidak berhenti di buku dongeng, bahan bacaannya bahkan meluas ke buku-buku serius seperti sejarah serta biografi orang ternama.

Selanjutnya, dunia mode pertama kali menyapa Karl lewat buku mengenai Paul Poiret, seorang seniman dan desainer Prancis yang pada 1906 menciptakan revolusi mode dengan membebaskan wanita dari kungkungan korset. Adapun fashion show pertama yang disaksikan Karl adalah pertunjukan Christian Dior dan Jacques Fath di era 1950-an. Di situlah, Karl jatuh cinta pada mode.

”Saya ingat pertama kali saya menyaksikan fashion show, ada kegembiraan yang tak tergambarkan. Saya suka suasananya dan saya suka bagaimana fashion bisa merefleksikan banyak hal,” terangnya.

Dari Balmain ke Chloe
 
Namun sayangnya, Jerman tidak memberikan apa yang Karl mau. Untuk mendapatkan pendidikan mode secara intensif, Karl hijrah ke Paris dan memulai kariernya dengan menjadi juru gambar. Tidak dinyana, Karl memiliki bakat yang begitu besar akan mode. Sketsa-sketsanya jauh dari kasar, malah, Karl dengan alami bisa menggambar berbagai gaya fashion hanya dengan sekali melihat contoh.

Bakat itu juga yang kemudian membawa Karl memenangi lomba merancang coat pada 1955 yang disponsori International Wool Certificate. Kemenangannya di kompetisi itu mengantarkan Karl ke pintu rumah mode Pierre Balmain saat Karl memulai kesuksesannya sebagai desainer.

”Jam kerja di Balmain sangat panjang dan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Saya ingat, saya harus menggambar berlembar-lembar sketsa busana serta detailnya. Namun, saya rasa itu yang melatih ketajaman saya dalam merancang,” cerita desainer berambut putih ini.

Karl bekerja di Balmain selama delapan tahun sebelum ditarik Chloe untuk menjadi direktur kreatif lini koleksi busana siap pakai eksklusif pada 1963.
 
Tiga tahun bersama Chloe, Karl kemudian pindah untuk bekerja di Jean Patou. Melakukan pekerjaan yang secara garis besar serupa selama belasan tahun membuat Karl bosan. Dia pun memutuskan untuk berhenti sementara dan melanjutkan studinya tentang desain. Namun, kebosanan kembali melanda.

”Saya bosan. Bosan bekerja, bosan belajar. Selama dua tahun, saya hanya bermain dan berkeliaran di pantai,” kenangnya.

Libur panjang akhirnya mendatangkan inspirasi baru bagi Karl. Dia pun membuka sebuah toko kecil di jalanan Paris dan meluncurkan label pribadinya, Karl Lagerfeld, di awal 1980-an. Rancangannya waktu itu cukup kontroversial dibanding desainer lain. Koleksinya yang bergenre ready to wear tampil dramatis, konstruktif, dengan sedikit sentuhan maskulin. Karl pun tidak repot-repot bermain warna, hanya dua palet yang digunakannya, hitam dan putih.

Karl & Chanel
 
Kolaborasi Karl bersama Chanel dimulai pada 1983. Karl ditawari untuk menjadi direktur kreatif dan ”membangkitkan” kembali rumah mode Chanel yang sekarat sepeninggal sang pendiri, Coco Chanel. Pada waktu itu, Karl sudah menjadi salah satu desainer papan atas Prancis dengan segudang pengalaman, termasuk menjadi direktur kreatif bagi Fendi.

Chanel, pada 1983, merupakan rumah mode yang diperkirakan akan amblas ditelan waktu, Koleksi Chanel yang dulu terbilang kontroversial sudah ditinggalkan. Rumah mode itu bertahan sematamata hanya karena penjualan parfum Chanel No.5 yang terus laris manis.

”Banyak yang menyarankan saya menolak tawaran Chanel karena mereka melihat Chanel sudah mati. Namun, ada yang menarik dari Chanel dan saya pun tertantang,” ujarnya.

Di Chanel, Karl merombak segalanya. ”Budaya berubah, konsumen berubah dan fashion pun ikut berubah,” kata desainer yang mengatakan inspirasinya bisa dari mana saja, mulai jalanan hingga teknologi.

Drama John Galliano


UNTUK urusan menyuntikkan drama dalam pertunjukan, John Galliano adalah master. Unsur teatrikal selalu kental terasa dalam setiap fashion show Galliano dan membuat pertunjukannya selalu dinanti setiap musim.
 
Awalnya, tak ada yang mengira bocah bernama lengkap Juan Carlos Antonio Galliano Guillen akan menjadi salah satu desainer yang terkenal di ranah mode. Namun, tidak seperti orang-orang lain yang memandang sinis kepada seorang pemuda berdarah campuran Gibraltar dan Spanyol, pria yang memilih John Galliano sebagai nama panggungnya ini sudah memiliki visi sejak kecil. Menjadi seorang desainer. Dan bukan sembarang desainer. Galliano kecil tampaknya sudah tahu bahwa panggung besar adalah tujuannya.
 
Kepindahan keluarganya ke London pada saat usia Galliano enam tahun memberi kontribusi besar terhadap perjalanan Galliano sebagai desainer. Di London, pria kelahiran 28 November 1960 itu menemukan warna-warni fashion. Setelah lulus dari St. Anthony’s RC School dan Wilson’s Grammar School, Galliano tanpa ragu langsung memilih St Martin’s College of Art and Design sebagai tempatnya melabuhkan cita-cita sebagai desainer.
 
Bakat dan ketekunan Galliano menarik perhatian banyak pengamat mode semasa dia mengenyam pendidikan di St Martin, terutama setelah Galliano lulus sebagai siswa kehormatan pada 1984. Koleksi bertema ”Les Incroyables” yang dihadirkannya sebagai tugas akhir terinspirasi dari Revolusi Prancis, menarik perhatian buyer lokal, Browns, yang langsung membeli dan memajangnya di butiknya di London.
 
”Saya tidak menyangka seluruh koleksi saya akan dibeli. Waktu itu imajinasi saya begitu meluap-luap dan saya rasa koleksi yang dihadirkan terlalu eksperimental,” ujar Galliano dalam sebuah wawancara.
 
Kendatipun eksperimental, koleksi Galliano ternyata mendapat banyak review positif termasuk dari pihak media. Karenanya, wajar jika dalam waktu dekat Galliano sudah menemukan penyokong finansial dan merilis labelnya sendiri bersama dengan Amanda Harlech yang bertindak sebagai stylist, dan Stephen Jones, sang pembuat topi.
 
Tapi, rupanya kerja sama Galliano dengan Johan Brun, sang investor, tidak berjalan baik. Lepas dari Brun, Galliano digandeng oleh Peder Bertelsen, pengusaha asal Denmark. Namun, kerja sama ini juga tidak berlangsung lama. Kontrak Galliano-Bertelsen berakhir pada 1988 dan Galliano pun disunting firma asal Jerman, Faycal Armor. Bersama Faycal Armor, Galliano memindahkan basis bisnisnya ke Paris dan untuk pertama kalinya, Galliano tampil di panggung Paris Fashion Week pada 1989.
Di Paris, Galliano menemukan sumber inspirasi yang lebih luas, bahkan tak terbatas.
 
”Paris adalah surga,” cetus Galliano. ”Di Paris, saya bisa mendapatkan segala yang saya inginkan, mengeksplorasi segala yang menarik perhatian saya. Meninggalkan London adalah keputusan yang tepat,” papar pria yang tahun ini berusia setengah abad.
 
Rancangan Galliano yang ”nyeleneh” dan cenderung eksentrik menarik perhatian Kylie Minogue yang memintanya untuk mendesain kostum tur ”Let’s Get to It” pada 1991. Namun, sukses yang sempat direguk Galliano muda harus berhenti. Pada 1993, Faycal Armor mengakhiri kontrak mereka dan membuat Galliano harus membatalkan show-nya di Paris Fashion Week. Beruntung bagi Galliano, Editor-in-Chief Vogue Amerika Anna Wintour dan Andre Leon Talley menyukai bakatnya, mereka kemudian mengenalkan Galliano pada sosialita Portugis Sao Schlumberger, yang kemudian menjadi investor utama usahanya, sekaligus ”jalan masuk” bagi Galliano untuk meraih klien-klien potensial di kelas sosial yang lebih tinggi.
 
”Pertemuan dengan Sao Schlumberger bisa dikatakan menjadi titik balik karier saya sebagai desainer. Saya menyebutnya sebagai fashion moment,” ujar Galliano, yang sejak saat itu mulai menggunakan model-model high end, termasuk Kate Moss, Helena Christensen, Naomi Campbell, dan Linda Evangelista. Dari momen itu jugalah, Galliano mulai menjadikan pertunjukan teatrikal sebagai ciri khasnya.


Fashion moment Galliano pada waktu itu berupa pertunjukan privat di mansion milik Schlumberger di Paris, di mana pria yang kerap tampil dengan gaya eksentrik tersebut menampilkan 17 gaun serbahitam hanya dalam waktu 15 hari. ”Untuk pertama kalinya, fashion show saya dihadiri jajaran sosialita dan selebriti, termasuk Madonna dan Beatrice Rothschild,” kenang Galliano.
 
Gaya rancangan Galliano yang memadukan napas ekstravagan dalam format pret-a-porter menuai banyak pujian dari editor mode. Galliano pun kemudian dipuja sebagai desainer yang mampu mengembalikan citra Parisian Haute Couture yang sempat tenggelam.
 
Sukses pun kembali menghampiri Galliano. Pada Juli 1995, dia ditunjuk sebagai direktur kreatif untuk Givenchy oleh pemilik konglomerasi fashion Bernard Arnault dan menjadi desainer Inggris pertama yang mengepalai rumah mode Prancis. Setahun kemudian, Galliano mempresentasikan koleksi debutnya untuk Givenchy dan menerima review positif dari media.
 
Tapi, tak berapa lama Arnault memindahkan Galliano untuk memimpin rumah mode Christian Dior menggantikan Gianfranco Ferre yang mundur karena ingin lebih fokus pada bisnisnya.
 
Bersama Dior, Galliano bagai menemukan belahan jiwa. Karya debutnya pada 20 Januari 1997 yang merupakan perayaan 50 tahun Christian Dior menjadi pengikat antara sang desainer dan label.

7 Mei, iPad 3G Mendarat di AS


CALIFORNIA - Apple segera meluncurkan gadget terbarunya, iPad dengan dukungan konektivitas 3G pada 7 Mei 2010. Namun, lagi-lagi iPad 3G baru akan tersedia untuk pasar Amerika Serikat.

Apple menggaet operator telekomunikasi, AT&T untuk memasarkan iPad 3G yang tersedia dalam model 16, 32, dan 64 GB.

Neo Win, Senin (19/4/2010), memberitakan, layanan data yang ditawarkan AT&T berkisar USD14,99 untuk layanan 250MB per bulan, sedangkan untuk layanan data unlimited dibanderol sekira USD29,99.

Pemilihan tanggal 7 Mei tersebut, berselang sekira hari, bersamaan dengan peluncuran iPad untuk pasar internasional yang sempat tertunda. Negara-negara di luar AS diperkirakan baru dapat memesan iPad pada 10 Mei 2010.

Penundaan tersebut disebabkan karena permintaan pasar dalam negeri AS yang sangat tinggi. Apple harus memenuhi permintaan tersebut terlebih dahulu.

iPad sendiri diklaim telah menjadi produk yang paling diinginkan oleh konsumen di dunia. Tidak heran jika kemudian iPad menjadi produk primadona di situs shopping online macam eBay atau Craigslist. ToddsToyz.com, sebuah situs retail untuk barang-barang elektronik yang berlokasi di Boston bahkan mengaku menaikkan harga sekira USD100 hingga USD150 di atas harga normal. Harga ini jauh lebih murah ketimbang yang ditawarkan di eBay. Di situs lelang terbesar itu, iPad dihargai sekira USD1.200, untuk iPad versi tertinggi.

Potret Kebaya Indonesia


KEBAYA, seperti juga sejarah, mengalir mengikuti waktu, beradaptasi dengan zaman yang semakin maju dan memiliki cerita panjang yang bisa ditelusuri hingga abad ke-15 Masehi.

Dari sisi sejarah, kebaya merupakan busana atasan yang pertama kali dikenakan wanita Indonesia, terutama perempuan Jawa, yang digunakan bersama kain. Namun pada akhir abad ke-19, kebaya juga populer sebagai busana para perempuan Belanda yang membutuhkan pakaian yang cocok dengan iklim tropis Indonesia. Selain itu, kebaya juga pernah populer di kalangan perempuan peranakan Tionghoa sehingga muncul sebutan kebaya encim. Seiring berjalannya waktu, kebaya pun menjadi sebuah simbol feminisme, busana khas perempuan yang kini menjadi busana nasional.

Perjalanan panjang kebaya pun ikut memengaruhi bentuk kebaya yang digunakan perempuan Indonesia. Dokumentasi lama dari abad ke-19 milik keluarga keraton (Surakarta, Yogyakarta, Cirebon) di tanah Jawa masih merekam kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya. Gelang dan jam dikenakan di luar lengan kebaya, sementara bros serangkai tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Jenis ini akhirnya merambah permainan bahan. Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. Namun, beludru, sutra, dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antarnegara.

Kurun abad ke-19 dan masa pergerakan pada awal abad ke-20 adalah masa gemilang bagi kebaya. Pada masa itu kebaya juga digunakan kaum pendatang Eropa dan Tionghoa dengan ragam penyesuaiannya. Misalnya, kebaya bangsawan dan keluarga keraton terbuat dari sutra, beludru, dan brokat dengan hiasan sulam emas. Sementara golongan awam mengenakan bahan katun dan tenun kasar. Kaum keturunan Eropa biasanya mengenakan kebaya berbahan katun halus dengan aksen lace di pinggirnya. Adapun kaum Tionghoa menggunakan kebaya dengan potongan yang lebih pendek dan sederhana dengan hiasan yang berwarna, lazim disebut kebaya encim.

Seiring berjalannya waktu, kebaya berubah dan sempat tergerus zaman. Apalagi pada masa pendudukan Jepang ketika kreativitas dan produktivitas bangsa ditekan hingga ke level yang paling rendah. Pendudukan Jepang di Indonesia memutus jalur perdagangan tekstil dan perlengkapan penunjangnya, akhirnya banyak rumah produksi kebaya tutup dan hanya sedikit perusahaan batik yang bisa bertahan.

Sejak masa itu, jejak kebaya sedikit terhapus. Namun, para perempuan pejuang kemerdekaan yang masih menggunakan kebaya (kebanyakan jenis kebaya kartini dan kebaya encim), kembali memopulerkannya kendati harus bersaing dengan busana Barat yang dianggap lebih "memerdekakan" perempuan dari simbolisasi kebaya masa lalu-yang mengungkung perempuan dalam lilitan korset dan kain panjang.

Namun sekali lagi, anak bangsa membuktikan kreativitasnya. Kebaya pun kembali bangkit dari keterpurukannya. Bersama dengan maraknya batik, kebaya pun terangkat kepopulerannya. Sebut saja Rumah Mode Prajudi ataupun Iwan Tirta yang berjasa besar melestarikan busana nasional tersebut sehingga kebaya pun terus lestari di tangan para generasi penerus.

Pada awal 1990-an,Ghea Panggabean menghadirkan kebaya "gaya baru" menggunakan material sutra organdi dengan sulaman khas keraton. Ghea pun berhasil meyakinkan bahwa kebaya bisa dipakai sebagai busana kontemporer dengan padu padan tidak terbatas hanya dengan kain panjang atau sarung. Kebaya ala Ghea ini pun menjadi populer sebagai busana kaum elite dan pada akhirnya banyak dikembangkan desainer lokal lain.

"Kebaya itu unik karena sangat mudah beradaptasi terhadap setiap jenis bawahan, bisa dikenakan untuk setiap acara, dan seksi," kata Ghea. Tak heran bila kebaya bisa bertahan memasuki milenium baru dan tentu hal ini tidak terlepas dari jasa semua perancang yang mendesain kebaya sebagai busana kontemporer. "Awalnya perempuan di Indonesia mengenakan kain yang dililitkan di tubuh yang kemudian berkembang dengan atasan berkerah bulat atau berbentuk T. Karena waktu itu belum ada kancing, maka untuk menyatukan atasan yang memakai belahan tengah di bagian depan ini dipakai peniti dan bros," sebutnya, menjelaskan industri bros dan aksesori lain yang ikut berkembang dengan kebaya.

Namun, bukan hanya di tangan Ghea kebaya modern berevolusi. Kita kini mengenal kebaya Anne Avantie, Marga Alam, Zaenal Songket, ataupun Amy Atmanto, para desainer generasi baru yang serius menggarap kebaya dengan sentuhan kontemporer tanpa harus kehilangan nilai sejarahnya.

Sebutlah Amy Atmanto yang setiap tahun selalu menghadirkan kreasi baru kebaya, baik secara pola, siluet, cutting, maupun material. Di tangan Amy, kebaya bukan hanya berbahan sutra, katun, ataupun beludru, melainkan merambah ke jalur sifon, shantung, lace, ataupun jenis tekstil lainnya, yang kemudian ditingkahi teknik bordir, renda, pilin, lipit, layer hingga quilt untuk mewarnai kemegahan kebaya. Tidak ketinggalan juga aplikasi ornamen penuh kilau macam payet, kristal, atau batu-batu mulia sehingga kebaya bukan lagi sebuah busana, melainkan sebuah karya seni. Alasan itu juga yang membuat Amy menyebut setiap koleksinya sebagai masterpiece.

"Every piece is a masterpiece, karena dirancang dengan kekhasan tersendiri, khusus bagi masing-masing individu," tutur desainer yang dipercaya menjadi ambassador Swarovski ini.

Sejarah Panjang Celana Panjang


CELANA panjang adalah fashion item yang bisa ditemukan di lemari setiap orang, dalam berbagai bentuk juga model. Celana panjang juga memiliki sejarah panjang yang bisa ditelusuri hingga era 570 SM.

Menilik sejarah celana panjang, yang telah berevolusi baik dalam bentuk, fungsi, serta pemakainya, sebuah kisah panjang bisa tergali. Saat ini, celana panjang bisa dikatakan sebagai fashion item yang tak mengenal gender. Berbeda dengan gaun, rok, atau blus, celana panjang adalah busana universal.
 
Seorang wanita tidak akan dianggap aneh menggunakan celana panjang, berbeda dengan anggapan yang akan tercetus bila melihat seorang pria mengenakan gaun. Tidak hanya lintas gender, celana juga lintas kelas. Tak peduli status sosial yang melekat pada pemakainya, celana panjang tetap dikenakan semua orang. Celana tidak mengenal usia, pemakainya tidak terbatas dari anak-anak hingga orangtua, dan celana panjang tidak mengenal special occasion, penggunaannya bisa dari kasual hingga formal.
 
Dibandingkan dengan fashion item lain, celana panjang juga memiliki sejarah panjang. Catatan sejarah menunjukkan celana panjang sudah ada sejak 570 SM melalui relief di Persepolis, Iran. Celana panjang ini digunakan kaum nomaden Iran sebagai busana berkuda yang akan melindungi paha dan kaki dari gesekan dengan tubuh kuda. Selanjutnya, celana panjang menjadi “seragam” kaum pemburu Iran juga Persia dan biasanya dibuat dari kulit binatang.

Dari Persepolis, celana panjang terus menyebrang hingga ke tanah Mongolia dan menjadi salah satu fashion item di kerajaan China dan mulai dibuat dari kain. Pada masa itu, celana panjang hanya digunakan oleh pihak militer karena kemampuannya menjaga suhu tubuh tetap hangat.
 
Dari Asia, celana panjang kemudian menyeberang ke Barat berkat hubungan perdagangan dan berevolusi. Celana panjang menjadi busana standar bagi masyarakat Barat sejak abad ke-16. Namun catatan sejarah menunjukkan bahwa di abad ke-15, pria-pria Hungaria telah mengenakan pakaian yang berbentuk seperti celana panjang di balik busana mereka. Celana di awal-awal kemunculannya di Eropa dikenal sebagai pantalone. Nama tersebut diambil dari sebuah karakter komedi Italia berjudul “Commedia dell’Arte”, di mana seorang badut kerap tampil menggunakan celana panjang untuk menghibur raja.
 
Inggris, sesungguhnya telah berkenalan dengan celana panjang karena sebagian besar penduduk desanya di abad ke-12 kerap menggunakan garmen yang berbentuk seperti celana dengan panjang hingga ke mata kaki. Namun, garmen tersebut sempat menghilang di abad ke-13 dan kemudian muncul kembali dalam sejarah saat masyarakat Gaelic di Skotlandia dan Irlandia menggunakannya sebagai busana sehari-hari, terutama untuk bekerja.

Celana panjang kemudian menjadi populer sebagai busana pria berkat jasa George Bryan “Beau” Brummell di tahun 1812. Gaya berpakaian Brummel kemudian menjadi dress codedi kalangan bangsawan dan ditiru oleh masyarakat proletar.Pada waktu itu, celana panjang bangsawan berbentuk mirip legging, ketat dan menyempit di mata kaki, sementara celana kaum proletar lebih kaku karena terbuat dari kain yang cenderung keras sehingga bentuknya lebih lurus dan biasanya berwarna gelap.

Pada tahun 1846, Sir Harry Lumsden, yang menjadi panglima di Punjab, India, menukar celana panjang ketatnya dengan celana katun mirip piama yang kerap di gunakan masyarakat India untuk menghindari panas. Untuk membedakannya dengan busana masyarakat lokal, Lumsden mewarnai celananya dengan pewarna alam yang menjadi awal lahirnya celana khaki. Dari India, khaki menyebrang ke Afrika Selatan, Sudan, Afghanistan, Amerika, lalu ke Eropa.
 
Namun yang paling berjasa menyebarkan celana panjang ke seluruh dunia adalah para pelaut. Di abad ke-17 dan 18, pelaut menggunakan celana berpotongan baggy yang disebut galligaskins. Pelaut juga ikut mempopulerkan jeans yang kemudian identik dengan kaum Western Amerika di abad ke- 19. Celana panjang juga menjadi bentuk revolusi berbusana serta refleksi emansipasi wanita di abad ke-18. Di pertengahan abad ke-18, para wanita pekerja tambang mengenakan celana panjang di balik rok dan kemudian menggulungnya saat bekerja. Pada waktu itu, penggunaan celana panjang oleh wanita menimbulkan skandal sosial, namun skandal tersebut teredam oleh fungsi celana yang memang lebih dinamis dan menjamin keleluasaan bergerak.

Celana panjang untuk kaum wanita menjadi popular saat Marie Antoinette kerap menggunakannya untuk berkuda. Abad ke-19 menjadi era penting dalam fashion, saat celana panjang diadopsi sebagai busana wanita, bukan hanya busana pria. Hal ini semakin dipertegas dengan banyaknya aktris dan figur publik, seperti Marlene Dietrich dan Katherine Hepburn, yang menggunakan celana panjang sebagai busana sehari- hari.
 
Seiring berlalunya waktu, celana panjang tidak hanya dikenal sebagai fashion item fungsional karena kepraktisannya. Fashion mulai merasuk bersamaan dengan keinginan pemakainya untuk lebih bergaya dengan celana panjang. Wanita-wanita Eropa memodifkasi celana berkuda mereka menjadi busana yang bisa dikenakan sehari-hari dengan tampilan layaknya para pelaut. Desainer yang berpengaruh terhadap evolusi celana panjang bagi kaum wanita ini adalah Pierre Cardin, Coco Chanel, dan Yves Saint Laurent.
 
Saat ini, celana panjang tidak hanya berbentuk lurus bagai pipa. Celana berevolusi dan termodifikasi sesuai budaya dimana pemakainya berada. Di Jepang, celana panjang berbentuk hakama menjadi awal bentukan kulot, sementara di China, celana berpipa lurus diperindah bordir, sulaman, serta dibuat dari kain-kain halus untuk tampilan yang lebih cantik.Kaum perempuan Andalusia menggunakan celana panjang berhias lipit, sementara wanita Timur Tengah menggunakan harem pants yang kini justru menjadi populer di atas catwalk.

Harajuku, Fesyen Unik Wanita Jepang

DALAM urusan mode, Jepang punya banyak keunggulan. Masyarakat Jepang pintar tampil menarik dengan gaya busana yang tak lazim.

Salah satu gaya paling terkenal yang diusung Jepang adalah gaya harajuku, yang mengusung konsep padu padan busana dengan warna berbeda. Kini, mode harajuku telah populer seantero dunia. Bahkan, selebriti Hollywood seperti penyanyi pop, Gwen Stefani (mantan vokalis No Doubt), senantiasa tampil menarik dengan gaya harajuku ketika di atas panggung.

Gaya harajuku tidak sama dengan gaya kawaii yang terlihat cute, atau gothic lolita dan cosplay, yang mengusung desain dengan karakter anime dan manga, tokoh kartun Jepang di film dan komik favorit. Demikian yang okezone kutip dari Carefair, Senin (15/3/2010).

Walaupun tidak ada aturan ketat, namun Anda tetap harus mengetahui rumus berpakaian ala harajuku. Yaitu busana yang dipakai berlapis-lapis, penggunaan warna material bahan yang berbeda (tabrak warna) dan cerah, hiasan aksesori yang berlebih pada tas, ikat kepala, dan anting-anting mewah. Selain itu, rambut kepang dengan ekor kuda runcing juga menjadi kata kunci untuk tampil bergaya harajuku.

Kendati gaya harajuku begitu populer, namun dalam kehidupan sehari-hari wanita Jepang senang mengenakan busana dengan desain modern. Bahkan, sebagian dari mereka juga lebih nyaman memakai pakaian olahraga.  

Namun sekali lagi, wanita Jepang menyukai busana olahraga dengan warna cerah. Mereka percaya, busana cerah bisa mencuri perhatian banyak orang. Dan untuk membuat mereka berkesan tinggi, maka sepatu model platform atau boot menjadi pilihan aksesori terbaik.

Selain pakaian, wanita-wanita Jepang juga sangat perhatian dengan dunia kecantikan. Tak heran mereka rela menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan produk-produk kecantikan terbaik. Eyeshadow menjadi salah satu kosmetik paling populer bagi wanita Jepang, khususnya di kalangan remaja

Fashion Week, Gengsi Kota Mode

BENDERA mode terus berkibar di dunia internasional. Sepanjang tahun, pekan mode tak henti digelar. Dari Amerika, Eropa, Australia, Asia hingga Afrika berlomba-lomba menyajikan pergelaran mode terbaik.

Fashion week atau pekan mode bukanlah lagi acara bergengsi yang hanya bisa disaksikan di pusat mode dunia semacam Paris, Milan, London, ataupun New York. Pergelaran itu telah menjadi semacam agenda rutin yang harus dimiliki setiap negara. Seperti halnya sebuah acara adat, fashion week pun menjadi ritual yang tidak boleh dilewatkan masyarakat mode.
 
Kehadirannya merupakan agenda penting, bahkan menjadi denyut nadi yang menopang kehidupan fashion itu sendiri. Dalam ajang tersebut, desainer menguasai pentas. Memesona dunia dengan koleksi busana memikat. Daya magis rancangan mereka memengaruhi buyer dan fashionista.
Tren busana baru pun bergulir setiap musim.
 
Bahkan di era fast fashion sekarang ini, musim mode tidak lagi berusia enam bulan. Bukan lagi hanya berkisar pada koleksi spring/ summer ataupun fall/winter. Kedua garis besar mode itu semakin tersalip dengan koleksi baru para peritel high street yang mampu merumuskan tren dalam hitungan minggu.
 
Akibatnya, jadwal pekan mode di berbagai belahan dunia semakin padat. Dimulai dari agenda pergelaran ready-to-wear per enam bulan bagi lini busana pria dan wanita, pertunjukan adibusana haute couture, pergelaran pre-fall collection, serta pameran koleksi resor yang dirilis menyambut liburan musim panas.
 
Ya, di dunia mode, tenggat seolah tidak berhenti berdetak. Ada hal baru selalu disajikan. Para desainer pun dituntut untuk terus berkreasi. Otak kreatif mereka diperas sepanjang tahun. Tidak ada kata berhenti berproduksi, meski ide terkadang macet dan inspirasi menemui jalan buntu.
 
Bagi mereka, ksatria di atas catwalk, seluruh kerja keras tersebut akan terbayar ketika pujian mengalun dari berbagai media dan pengamat mode. Foto-foto apik koleksi teranyar pun akan segera terpampang di billboard raksasa, juga di berbagai media cetak. Tak jarang yang kemudian mendapat ulasan lengkap di program mode jaringan televisi internasional.
 
Dari fashion week, seluruh keglamoran dunia fashion bisa mereka dapatkan.
Sebaliknya, lewat perhelatan itu juga, kritik, hujatan, dan komentar negatif bisa beterbangan dari mulut tajam para pengamat. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap tingkat penjualan mereka ke depannya. Pun terhadap integritas mereka sebagai desainer. Singkatnya, bagi para desainer, pekan mode adalah dua sisi mata uang; memberi kekayaan, tapi juga bisa mendatangkan kerugian.
 
Apalagi, saat ini pekan mode tidak hanya digelar di Paris ataupun Milan. Hampir setiap negara di dunia memiliki gelaran fashion week masing-masing. Bahkan negara yang berada jauh di ujung peta dunia, Islandia, memiliki pesta mode reguler di ibu kotanya, Reykjavik. Begitu juga dengan pekan mode di Siprus dan Zagreb.
 
Penggagas Australian Fashion Week, Simon Lock, mengatakan saat ini terdapat sedikitnya 50 pekan mode yang dilaksanakan di seluruh dunia dalam rentang waktu satu tahun. ”Hal ini tentu membuat agenda buyer semakin padat. Mereka harus menetapkan prioritas,” ujarnya.
 
Karena itu, tidak heran bila negara-negara tersebut terkesan berlomba di liga mode internasional dengan pekan mode masing-masing. Di Asia, Jepang, India, Dubai, Hong Kong, China, Singapura, Thailand, dan Indonesia ikut berlaga. Australia pun tidak mau kalah dengan terus konsisten menggelar Rosemund Australian Fashion Week dan perhelatan mode lainnya.
 
Afrika punya pekan mode di Cape Town dan Johannesburg. Amerika meraih pamor lewat pekan mode di New York, Los Angeles, San Francisco, dan Miami. Sementara Eropa tetap mempertahankan kualitas dengan pergelaran reguler di Paris, Milan, Roma, London, Madrid, serta Berlin.
 
Namun, usaha keras masih harus dilakukan setiap negara di kompetisi mode. Pasalnya, hingga kini mahkota masih dipegang empat besar pusat fashion dunia, yakni Paris, Milan, London, dan New York.
 
”Secara umum, Milan selalu diidentikkan dengan karakter tailoring, London dengan gaya eklektik dan avant garde, New York yang minimalis dan simpel, dan Paris yang merupakan pusat couture,” tutur Lock.


Tak pelak, posisi kelima yang masih kosong pun jadi rebutan. Hong Kong, Dubai, Australia, Tokyo, dan Los Angeles saling kejar untuk mendudukinya. Bahkan, Singapura kini mulai mengejar posisi melalui Audi Singapore Fashion Festival yang tahun ini menginjak musim keempat.
 
Bagaimana dengan Jakarta? Gairah mode Indonesia rupanya baru terbangunkan beberapa tahun belakangan. Geliatnya terasa dengan adanya gelaran pekan mode layaknya Jakarta Fashion Week serta Jakarta Fashion & Food Festival (JFFF) yang kini memiliki jadwal pertunjukan reguler dengan kehadiran puluhan desainer domestik, serta barisan perancang internasional. Lalu, akankah kedua pekan mode itu membawa Indonesia menjadi salah satu pusat mode Asia? Hmm...kita lihat saja nanti.