Search This Blog

Monday, 19 April 2010

Drama John Galliano


UNTUK urusan menyuntikkan drama dalam pertunjukan, John Galliano adalah master. Unsur teatrikal selalu kental terasa dalam setiap fashion show Galliano dan membuat pertunjukannya selalu dinanti setiap musim.
 
Awalnya, tak ada yang mengira bocah bernama lengkap Juan Carlos Antonio Galliano Guillen akan menjadi salah satu desainer yang terkenal di ranah mode. Namun, tidak seperti orang-orang lain yang memandang sinis kepada seorang pemuda berdarah campuran Gibraltar dan Spanyol, pria yang memilih John Galliano sebagai nama panggungnya ini sudah memiliki visi sejak kecil. Menjadi seorang desainer. Dan bukan sembarang desainer. Galliano kecil tampaknya sudah tahu bahwa panggung besar adalah tujuannya.
 
Kepindahan keluarganya ke London pada saat usia Galliano enam tahun memberi kontribusi besar terhadap perjalanan Galliano sebagai desainer. Di London, pria kelahiran 28 November 1960 itu menemukan warna-warni fashion. Setelah lulus dari St. Anthony’s RC School dan Wilson’s Grammar School, Galliano tanpa ragu langsung memilih St Martin’s College of Art and Design sebagai tempatnya melabuhkan cita-cita sebagai desainer.
 
Bakat dan ketekunan Galliano menarik perhatian banyak pengamat mode semasa dia mengenyam pendidikan di St Martin, terutama setelah Galliano lulus sebagai siswa kehormatan pada 1984. Koleksi bertema ”Les Incroyables” yang dihadirkannya sebagai tugas akhir terinspirasi dari Revolusi Prancis, menarik perhatian buyer lokal, Browns, yang langsung membeli dan memajangnya di butiknya di London.
 
”Saya tidak menyangka seluruh koleksi saya akan dibeli. Waktu itu imajinasi saya begitu meluap-luap dan saya rasa koleksi yang dihadirkan terlalu eksperimental,” ujar Galliano dalam sebuah wawancara.
 
Kendatipun eksperimental, koleksi Galliano ternyata mendapat banyak review positif termasuk dari pihak media. Karenanya, wajar jika dalam waktu dekat Galliano sudah menemukan penyokong finansial dan merilis labelnya sendiri bersama dengan Amanda Harlech yang bertindak sebagai stylist, dan Stephen Jones, sang pembuat topi.
 
Tapi, rupanya kerja sama Galliano dengan Johan Brun, sang investor, tidak berjalan baik. Lepas dari Brun, Galliano digandeng oleh Peder Bertelsen, pengusaha asal Denmark. Namun, kerja sama ini juga tidak berlangsung lama. Kontrak Galliano-Bertelsen berakhir pada 1988 dan Galliano pun disunting firma asal Jerman, Faycal Armor. Bersama Faycal Armor, Galliano memindahkan basis bisnisnya ke Paris dan untuk pertama kalinya, Galliano tampil di panggung Paris Fashion Week pada 1989.
Di Paris, Galliano menemukan sumber inspirasi yang lebih luas, bahkan tak terbatas.
 
”Paris adalah surga,” cetus Galliano. ”Di Paris, saya bisa mendapatkan segala yang saya inginkan, mengeksplorasi segala yang menarik perhatian saya. Meninggalkan London adalah keputusan yang tepat,” papar pria yang tahun ini berusia setengah abad.
 
Rancangan Galliano yang ”nyeleneh” dan cenderung eksentrik menarik perhatian Kylie Minogue yang memintanya untuk mendesain kostum tur ”Let’s Get to It” pada 1991. Namun, sukses yang sempat direguk Galliano muda harus berhenti. Pada 1993, Faycal Armor mengakhiri kontrak mereka dan membuat Galliano harus membatalkan show-nya di Paris Fashion Week. Beruntung bagi Galliano, Editor-in-Chief Vogue Amerika Anna Wintour dan Andre Leon Talley menyukai bakatnya, mereka kemudian mengenalkan Galliano pada sosialita Portugis Sao Schlumberger, yang kemudian menjadi investor utama usahanya, sekaligus ”jalan masuk” bagi Galliano untuk meraih klien-klien potensial di kelas sosial yang lebih tinggi.
 
”Pertemuan dengan Sao Schlumberger bisa dikatakan menjadi titik balik karier saya sebagai desainer. Saya menyebutnya sebagai fashion moment,” ujar Galliano, yang sejak saat itu mulai menggunakan model-model high end, termasuk Kate Moss, Helena Christensen, Naomi Campbell, dan Linda Evangelista. Dari momen itu jugalah, Galliano mulai menjadikan pertunjukan teatrikal sebagai ciri khasnya.


Fashion moment Galliano pada waktu itu berupa pertunjukan privat di mansion milik Schlumberger di Paris, di mana pria yang kerap tampil dengan gaya eksentrik tersebut menampilkan 17 gaun serbahitam hanya dalam waktu 15 hari. ”Untuk pertama kalinya, fashion show saya dihadiri jajaran sosialita dan selebriti, termasuk Madonna dan Beatrice Rothschild,” kenang Galliano.
 
Gaya rancangan Galliano yang memadukan napas ekstravagan dalam format pret-a-porter menuai banyak pujian dari editor mode. Galliano pun kemudian dipuja sebagai desainer yang mampu mengembalikan citra Parisian Haute Couture yang sempat tenggelam.
 
Sukses pun kembali menghampiri Galliano. Pada Juli 1995, dia ditunjuk sebagai direktur kreatif untuk Givenchy oleh pemilik konglomerasi fashion Bernard Arnault dan menjadi desainer Inggris pertama yang mengepalai rumah mode Prancis. Setahun kemudian, Galliano mempresentasikan koleksi debutnya untuk Givenchy dan menerima review positif dari media.
 
Tapi, tak berapa lama Arnault memindahkan Galliano untuk memimpin rumah mode Christian Dior menggantikan Gianfranco Ferre yang mundur karena ingin lebih fokus pada bisnisnya.
 
Bersama Dior, Galliano bagai menemukan belahan jiwa. Karya debutnya pada 20 Januari 1997 yang merupakan perayaan 50 tahun Christian Dior menjadi pengikat antara sang desainer dan label.

No comments:

Post a Comment