Search This Blog

Monday, 19 April 2010

Karl Lagerfeld 'Sang Kaisar'


JIKA ditanya siapa desainer yang paling berpengaruh saat ini, nama Karl Lagerfeld pasti tercetus sebagai salah satunya. Desainer bergelar ”Kaiser” itu sukses menangani tiga label kelas dunia, Chanel, Fendi, dan label pribadinya, Karl Lagerfeld.

Desainer yang bernama lengkap Karl Otto Lagerfeld itu lahir di Hamburg, Jerman pada 1933. Kendati dikenal sebagai perancang asal Jerman, Karl sebenarnya berdarah campuran Swedia-Jerman, yang didapat dari ayahnya, seorang pebisnis sukses asal Swedia dan ibunya adalah keturunan orang kaya lama di Jerman.

Hobi Karl kecil adalah membaca. ”Saya suka sekali membaca. Saya sudah membaca buku dari kecil. Ibu saya mengatakan, jika ingin dongeng sebelum tidur maka saya harus membacanya sendiri,” ujar Karl dalam sebuah wawancara. Namun, ternyata Karl kecil tidak berhenti di buku dongeng, bahan bacaannya bahkan meluas ke buku-buku serius seperti sejarah serta biografi orang ternama.

Selanjutnya, dunia mode pertama kali menyapa Karl lewat buku mengenai Paul Poiret, seorang seniman dan desainer Prancis yang pada 1906 menciptakan revolusi mode dengan membebaskan wanita dari kungkungan korset. Adapun fashion show pertama yang disaksikan Karl adalah pertunjukan Christian Dior dan Jacques Fath di era 1950-an. Di situlah, Karl jatuh cinta pada mode.

”Saya ingat pertama kali saya menyaksikan fashion show, ada kegembiraan yang tak tergambarkan. Saya suka suasananya dan saya suka bagaimana fashion bisa merefleksikan banyak hal,” terangnya.

Dari Balmain ke Chloe
 
Namun sayangnya, Jerman tidak memberikan apa yang Karl mau. Untuk mendapatkan pendidikan mode secara intensif, Karl hijrah ke Paris dan memulai kariernya dengan menjadi juru gambar. Tidak dinyana, Karl memiliki bakat yang begitu besar akan mode. Sketsa-sketsanya jauh dari kasar, malah, Karl dengan alami bisa menggambar berbagai gaya fashion hanya dengan sekali melihat contoh.

Bakat itu juga yang kemudian membawa Karl memenangi lomba merancang coat pada 1955 yang disponsori International Wool Certificate. Kemenangannya di kompetisi itu mengantarkan Karl ke pintu rumah mode Pierre Balmain saat Karl memulai kesuksesannya sebagai desainer.

”Jam kerja di Balmain sangat panjang dan ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Saya ingat, saya harus menggambar berlembar-lembar sketsa busana serta detailnya. Namun, saya rasa itu yang melatih ketajaman saya dalam merancang,” cerita desainer berambut putih ini.

Karl bekerja di Balmain selama delapan tahun sebelum ditarik Chloe untuk menjadi direktur kreatif lini koleksi busana siap pakai eksklusif pada 1963.
 
Tiga tahun bersama Chloe, Karl kemudian pindah untuk bekerja di Jean Patou. Melakukan pekerjaan yang secara garis besar serupa selama belasan tahun membuat Karl bosan. Dia pun memutuskan untuk berhenti sementara dan melanjutkan studinya tentang desain. Namun, kebosanan kembali melanda.

”Saya bosan. Bosan bekerja, bosan belajar. Selama dua tahun, saya hanya bermain dan berkeliaran di pantai,” kenangnya.

Libur panjang akhirnya mendatangkan inspirasi baru bagi Karl. Dia pun membuka sebuah toko kecil di jalanan Paris dan meluncurkan label pribadinya, Karl Lagerfeld, di awal 1980-an. Rancangannya waktu itu cukup kontroversial dibanding desainer lain. Koleksinya yang bergenre ready to wear tampil dramatis, konstruktif, dengan sedikit sentuhan maskulin. Karl pun tidak repot-repot bermain warna, hanya dua palet yang digunakannya, hitam dan putih.

Karl & Chanel
 
Kolaborasi Karl bersama Chanel dimulai pada 1983. Karl ditawari untuk menjadi direktur kreatif dan ”membangkitkan” kembali rumah mode Chanel yang sekarat sepeninggal sang pendiri, Coco Chanel. Pada waktu itu, Karl sudah menjadi salah satu desainer papan atas Prancis dengan segudang pengalaman, termasuk menjadi direktur kreatif bagi Fendi.

Chanel, pada 1983, merupakan rumah mode yang diperkirakan akan amblas ditelan waktu, Koleksi Chanel yang dulu terbilang kontroversial sudah ditinggalkan. Rumah mode itu bertahan sematamata hanya karena penjualan parfum Chanel No.5 yang terus laris manis.

”Banyak yang menyarankan saya menolak tawaran Chanel karena mereka melihat Chanel sudah mati. Namun, ada yang menarik dari Chanel dan saya pun tertantang,” ujarnya.

Di Chanel, Karl merombak segalanya. ”Budaya berubah, konsumen berubah dan fashion pun ikut berubah,” kata desainer yang mengatakan inspirasinya bisa dari mana saja, mulai jalanan hingga teknologi.

No comments:

Post a Comment