Search This Blog

Monday, 19 April 2010

Jejak Para Legendaris

KIBLAT dunia mode adalah Paris. Namun, bukan kota itu yang menjadikannya identik dengan sebutan mode dan adibusana, melainkan para perancang yang berbasis di ibu kota Prancis ini.

Tidak mudah membangun prestasi gemilang dan karier cemerlang di salah satu kota terindah di dunia ini. Apalagi di bidang mode. Tidak sembarang orang bisa menapakkan kaki dan mempresentasikan koleksi di catwalk Paris. Dibutuhkan usaha ekstrakeras untuk bisa mencapai gerbangnya. Selanjutnya, perjuangan mati-matianlah yang akan mengantarkan seorang perancang ke runway kehormatan, Paris Fashion Week.

Pertempuran tidak berakhir sampai di situ. Persaingan ketat menunggu di ujung catwalk. Bukan hanya pencinta mode yang harus dimanjakan dengan koleksi- koleksi inovatif, tapi juga deretan pelaku mode, mulai buyer hingga para editor. Para perancang pun selalu dihantui waktu. Tidak ada kata istirahat di dunia mode. Deadline terus bercokol di setiap agenda, memaksa desainer untuk terus memutar otak, menggali inspirasi demi menyajikan koleksi yang lebih memikat. Jika berhasil, panggung kehormatan dan tepuk tangan riuh membayar lunas semua usaha keras tersebut. Namun, bila tidak, semuanya kembali ke awal, kembali menapaki perjalanan panjang itu.

Ya, tidak mudah menggapai tangga karier sebagai desainer papan atas di Paris, pusat mode dunia. Namun, tentu nama-nama besar seperti Chanel, Versace, Yves Saint Laurent, Ralph Lauren, Pierre Cardin yang berkibaran di Paris membuat banyak bakat muda tergiur. Berlomba-lomba mendaki jalur terjal di trek mode, berusaha mendekati dan menjajari nama-nama yang menjadi inspirasi mereka.

Namun, para legendaris mode tidak berdiri di bawah lampu sorot dengan langkah mudah. Semua perancang besar yang berdiri di panggung Paris punya kisah tersendiri tentang perjuangannya.

Coco Chanel memulai mengawali suksesnya dengan inovasi di dunia mode. Dia yang memperkenalkan little black dress sebagai busana untuk segala kesempatan dan pengaruhnya yang besar di dunia mode membuat majalah Time menaruhnya di daftar 100 orang paling berpengaruh pada abad ke-20.

Yves Saint Laurent, yang meninggal akibat kanker otak, memiliki jalan hidup yang tidak mulus. Bakatnya yang begitu besar mengantarnya hingga ke rumah mode Christian Dior, tetapi perang membuat mentalnya tertekan sehingga Saint Laurent harus dirawat secara intensif di rumah sakit jiwa. Setelah pulih, Saint Laurent terus merajut sukses hingga meraih gelar sebagai ”King of Fashion” dan mendapat berbagai gelar kehormatan, termasuk ”Legion d’Honneur” dari mantan presiden Prancis Jacques Chirac.

Presiden Council of Fashion Designer of America (CFDA) Diane von Furstenberg mengatakan, Yves Saint Laurent merupakan salah satu desainer paling berpengaruh pada abad ke-20. Gianni Versace yang juga dianggap sebagai maestro mode, memiliki kisah tragis. Dia ditembak penggemarnya ketika tengah berjalan- jalan. Namun, karya-karyanya yang luar biasa dan warisannya terus dilanjutkan kedua saudaranya, Santo dan Donatella Versace.

Bukan hanya mereka yang telah berpulang yang meninggalkan jejak di ranah mode. Para legendaris hidup tidak ketinggalan memberikan warna yang berbeda, seperti halnya Valentino, Karl Lagerfeld, Vivienne Westwood, Tom Ford, maupun Diane von Furstenberg.

Valentino hadir dengan Rosso, gaun-gaun merah yang menjadi ciri khasnya. Sementara Westwood menjadikan punk unsur yang terintegrasi dengan mode, bukan hadir terpisah. Lain lagi dengan Tom Ford yang berhasil membuktikan dirinya sebagai desainer berbakat tanpa nama besar Gucci. Adapun Karl Lagerfeld menjadi kunci sukses terus berlanjutnya nama besar Chanel di dunia mode dan Diane von Furstenberg menggebrak industri mode lewat gaun lilitnya yang terkenal.

Selain itu, Ralph Lauren membawa sportswear mendapat penghargaan istimewa di industri mode.

No comments:

Post a Comment